# # # # #
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulis Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2013

Panduan Menulias Karya Tulis Ilmiah Yang Baik



Oleh. Ust Ridho Abdillah Lc
Mahasiswa Pascasarjana UIM




Dunia tulis menulis mempunyai peraturan dan tata cara yang musti kita pahami dengan baik dan benar agar karya tulis kita layak dikonsumsi khalayak, atau dalam kaitannya dengan pragmatisme tulisan kita itu layak ikut lomba. Terkhusus karya tulis ilmiah, ia mempunyai beberapa ciri dan kriteria yang musti ada agar dianggap sebagai sebuah karya tulis ilmiah yang baik. Apakah sajakah itu? Di bawah ini akan disebutkan rinciannya. Namun, sebelum lebih jauh kita membahas tentang itu, ada baiknya jika kita membahas terlebih dahulu hal yang berkaitan dengan ragam bahasa tulis.
Apa itu ragam bahasa tulis? Yakni ragam bahasa yang digunakan untuk menyajikan karya tulis. Ragam ini dibedakan atas: (a) ragam ilmiah/ilmu, (b) ragam perundang-undangan, (c) ragam pers/jurnalistik, dan (d) ragam sastra. Berikut penjelasan lebih detailnya.

Minggu, 06 Januari 2013

Persyaratan Lomba Karya Tulis Ilmiah

1. Setiap peserta wajib mematuhi ketentuan umum lomba karya tulis.
2. Karya Tulis Ilmiah terdiri dari beberapa unsur wajib, yaitu:
a.   Judul, ditulis di tengah menggunakan huruf kapital dan tebal.
b.  Abstrak, tidak lebih dari 200 kata dilengkapi dengan 3 sampai 5 kata kunci.
c.   Pendahuluan, berisi latar belakang masalah dan metode penulisan.
d.  Isi, dibagi menjadi beberapa bab sesuai dengan pembahasan.
e. Kesimpulan, terdiri dari hasil pembahasan dan rekomendasi atau saran bila diperlukan.
f.   Referensi, diwajibkan menggunakan minimal 2 buku rujukan selain Al-Quran dan terjemahannya.
3.  Tulisan utama setelah abstrak dibagi menjadi beberapa bab, setiap bab terdiri dari beberapa seksi (jika diperlukan), dan setiap seksi terdiri dari beberapa subseksi (jika diperlukan).
4.  Bab harus diberi nomor dan judulnya di tulis dengan menggunakan huruf besar dan tebal (contoh, 1. PENDAHULUAN).
5.   Penomoran seksi menggunakan angka 2 digit dan judulnya menggunakan huruf kecil dan tebal (contoh, 2.1 Pengumpulan Data).
6.     Subseksi ditulis dengan tiga digit (contoh, 3.1.2 Contoh Penerapan).
7.      Setiap setelah bab, seksi dan subseksi terdapat satu spasi kosong.
8.      Setiap sebelum bab baru terdapat dua spasi kosong.
9.      Seluruh paragraf dipisahkan dengan satu spasi kosong.
10.  Setiap paragraf ditulis rata kiri – kanan (justify).
11. Catatan kaki tidak perlu ditulis dan referensi yang digunakan ditulis menggunakan catatan perut.
12. Referensi ditulis dengan susunan berikut: nama pengarang. (tahun) judul buku, penerbit, kota penerbitan. Contoh: Badrus, Ahmad. (2001) Terus Berjuang, Gramedia, Jakarta.
13.  Jumlah maksimum tulisan 10 halaman.
14.  Tersedia contoh penulisan yang telah sesuai dengan petunjuk di atas.

Silahkan download dengan kata kunci: Download Berkas

Download Berkas




Untuk Mendapatkan:

-          Free Ebook Panduan Menerjemahkan, Oleh Ust Sufyan Basweidan, MA

-          Naskah Untuk Lomba Terjemah (لفتة الكبد في نصيحة الولد)

-          Petunjuk penulisan paper LKTI

-          Peraturan dan persyaratan lomba

-          Surat Pernyataan Peserta



Silahkan download semua berkas dengan klik DISINI.





Menyusun Sebuah Paragraf

Paragraf adalah kumpulan beberapa kalimat. Biasanya, sebuah paragraf terdiri dari suatu pikiran, gagasan, atau ide pokok yang sangat terlihat jelas pada satu kalimat saja, sedangkan kalimat - kalimat lainnya merupakan kalimat yang menjelaskannya. Kalimat yang menunjukkan ide pokok disebutkan juga kalimat utama, sedangkan sisanya disebut juga kalimat penjelas.


Bila sebuah paragraf ingin disusun untuk menyatakan hal - hal umum (luas) terlebih dahulu sebelum hal - hal yang khusus, maka kalimat utama diletakkan di awal paragraf.
Contoh:
PEKILO tahun ini berlangsung meriah. Hal itu ditandai dengan partisipasi mahasiswa yang begitu tinggi disertai dengan antusias penonton yang begitu semarak. Mahasiswa dari negara lain pun rela menonton sepanjang pertandingan.


Kalimat 'PEKILO tahun ini belangsung meriah' adalah kalimat utama, sedangkan kalimat setelahnya ialah kalimat penjelas.


Sebaliknya, bila sebuah paragraf ingin disusun untuk menyatakan hal - hal khusus terlebih dahulu sebelum hal - hal umum, maka kalimat utama diletakkan di akhir paragraf.
Contoh:
Para peserta bermain secara sportif. Para suporter tak henti - hentinya memberi dukungan dengan sopan. Panitia dengan sigap mempersiapkan segala peralatan. Semua hal tersebut menunjukkan bahwa pertandingan sepak bola PEKILO berlangsung dengan baik.


Kalimat 'Semua hal tersebut menunjukkan bahwa pertandingan sepak bola PEKILO berlangsung dengan baik' adalah kalimat utama, sedangkan kalimat sebelumnya ialah kalimat penjelas.

Rabu, 18 Januari 2012

Tanda Petik Tunggal ('...')

 1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh:
  • Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
  • "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.
2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Contoh: feed-back 'balikan'

Sumber: Wikipedia


Penggunaan Tanda Petik ("...")

1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Contoh:
  • "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
  • Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
  • Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
  • Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.
  • Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.
3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh:
  • Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
  • Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".
4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."
5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Contoh:
  • Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
  • Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Sumber: Wikipedia

Penggunaan Tanda Kurung ((...))

1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
Contoh: Bagian Keuangan menyusun anggaran tahunan kantor yang kemudian dibahas dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) secara berkala.
2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Contoh:
  • Satelit Palapa (pernyataan sumpah yang dikemukakan Gajah Mada) membentuk sistem satelit domestik di Indonesia.
  • Pertumbuhan penjualan tahun ini (lihat Tabel 9) menunjukkan adanya perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh:
  • Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a)
  • Pembalap itu berasal dari (kota) Medan.
4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Contoh: Bauran Pemasaran menyangkut masalah (a) produk, (b) harga, (c) tempat, dan (c) promosi.
Hindari penggunaan dua pasang atau lebih tanda kurung yang berturut-turut. Ganti tanda kurung dengan koma, atau tulis ulang kalimatnya.
Contoh:
  • Tidak tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919) (dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv) merupakan seorang pemimpin Ukraina.
  • Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919), dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv, merupakan seorang pemimpin Ukraina.
  • Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919) merupakan seorang pemimpin Ukraina. Dia juga dikenal sebagai Matviy Hryhoriyiv.

Sumber: Wikipedia

Penggunaan Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh: anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan
Tanda ulang singkatan (seperti pangkat 2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan.
2. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh:
  • p-e-n-g-u-r-u-s
  • 8-4-1973
3. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
Bandingkan:
  • ber-evolusi dengan be-revolusi
  • dua puluh lima-ribuan (20×5000) dengan dua-puluh-lima-ribuan (1×25000).
  • Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang ramah
4. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital; (b) ke- dengan angka, (c) angka dengan -an, (d) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (e) nama jabatan rangkap.
Contoh:
  • se-Indonesia
  • hadiah ke-2
  • tahun 50-an
  • ber-SMA
  • KTP-nya nomor 11111
  • sinar-X
  • Menteri-Sekretaris Negara
5. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
  • di-charter
  • pen-tackle-an

Sumber: Wikipedia

Penggunaan Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh:
  • Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
  • Fakultas itu mempunyai dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua                  : Borgx
Wakil Ketua         : Hayabuse
Sekretaris            : Ivan Lanin
Wakil Sekretaris   : Irwan Gatot
Bendahara           : Rinto Jiang
Wakil bendahara  : Rex
3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Borgx : "Jangan lupa perbaiki halaman bantuan Wikipedia!"
Rex    : "Siap, Boss!"
4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Contoh:
(i) Tempo, I (1971), 34:7
(ii) Surah Yasin:9
(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
5. Tanda titik dua dipakai untuk menandakan nisbah (angka banding).
Contoh: Nisbah siswa laki-laki terhadap perempuan ialah 2:1.
6. Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.



Sumber: Wikipedia

Penggunaan Tanda Baca 'Koma'

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.
Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.
2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti,tetapi, dan melainkan.
Contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.
3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Contoh:
  • Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
  • Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
Contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh:
  • Oleh karena itu, kamu harus datang.
  • Jadi, saya tidak jadi datang.
5. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
contoh:
  • O, begitu.
  • Wah, bukan main.
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata adik, "Saya sedih sekali".
7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:
  • Medan, 18 Juni 1984
  • Medan, Indonesia.
8. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.
9. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia, 1990), hlm. 22.
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
contoh: Rinto Jiang, S.E.
11. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Contoh:
  • 33,5 m
  • Rp10,50
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.
13. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
14. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
contoh: "Di mana Rex tinggal?" tanya Stepheen.

Sumber: Wikipedia